Jumat, 01 Juni 2012

Pertemuan 5

“ Kepedulian seorang siswa kepada guru bukan karena kepintarannya, tetapi
sejauh mana guru itu mempedulikan dirinya “
( Renungan Guru-Tries 2012 )


 PERTEMUAN V

KLASIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN

Banyak sekali media yang dapat dipakai dalam kegiatan pembelajaran.
Dengan keanekaragaman media ini maka terdapat berbagai cara yang dapat dipergunakan untuk mengadakan klasifikasi media, atas dasar kategori-kategori tertentu.


Satu hal yang perlu diketahui, bahwa hingga saat ini belum ada taksonomi yang sifatnya baku dan berlaku umum. Yang jelas bahwa klasifikasi jenis-jenis media ini akan sangat dipengaruhi oleh tujuan klasifikasi itu sendiri.
Sebagai gambaran berikut ini dikemukakan beberapa dari usaha mengklasifikasikan media yang dilakukan atau dibuat oleh beberapa ahli.

Ø  Klasifikasi media secara umum
1.      Media cetak dan non cetak
2.      Media elektronik dan non elektronik
3.      Media proyeksi dan non proyeksi
4.      Media audio, visual dan audio-visual
5.      Media yang sengaja dirancang (by design) dan media yang dimanfaatkan (by utilization)

Dasar perhitungan Tahun Qomariyah
Ø   Rudy Bretz (1971) membuat klasifikasi media atas dasar ciri utamanya menjadi 3 unsur pokok yaitu suara, bentuk visual dan gerak. Disamping itu dia juga mengadakan klasifikasi antara media rekaman dan media telekomunikasi (transmisi). Atas dasar 2 hal diatas, maka dia menemukan 7 klasifikasi media yaitu: media audio, media gerak, audio visual diam, audio visual gerak, visual gerak, visual diam, Audio dan media cetak.



Ø  Wilbur Schramm (1977) mengklasifikasikan media berdasarkan kompleksitas dan besarnya biaya, menjadi 2 kelompok yaitu media besar (big-media) dan media kecil (little-media).
Ia juga mengklasifikasikan media atas dasar daya jangkau dan liputannya menjadi :
(1).   Media yang luas dan serentak meliputi banyak audience seperti TV, Radio,
(2).   Media yang terbatas liputannya seperti: film, slide, kaset, video, dsb. Dan
(3).  Media untuk belajar secara individual (mandiri) seperti: buku, model, program belajar dengan komputer ( Computer Assisted Instruction: CAI ).

Ø  Klasifikasi media audiovisual dalam hubungannya dengan hardware dan software ini secara lengkap dapat dikelompokkan seperti pada tabel.
-          Hardware = perangkat keras sebagai alat penampil program.
-          Software = perangkat lunak merupakan bahan / program ayang ditampilkan

1. MEDIA AUDIO
HARDWARE
SOFTWARE
a. Radio
b. Piringan Hitam
c. Tape/Casette
Pesawat Radio
Pick UP
Tape/Casette Recorder
Program Radio
Piringan hitam
Tape/Casette Berisi program
2. MEDIA VISUAL
HARDWARE
SOFTWARE
a. Film (bisu)
b. Slides
c. Film Strip
d. Epi(dia) Scope
e. Overhead Proyektor
f. Wall Sheets (peta charts,    diagram poster,dll)
g. Model/MockUp
h. Obyek/Specimen
i.   Dan lain-lain

Proyektor film
Proyektor Slide
Proyektor Film Strip
Proyektor Epi(dia)scope
Proyektor Overhead

Film (bisu)
Slides
Film Strip
Benda-benda/Bahanbahan
yang diproyeksikan OHP Transparancies
3. MEDIA AUDIO
VISUAL
HARDWARE
SOFTWARE
a. CAI/CAL
b. Televisi
c. Radio vision
d. Film (bicara)
e. Tape dan slide sequence (sound slide)
f. Tape dan film strip
g. Dramatisasi
h. Permainan boneka
i. Dan lain-lain
Perangkat Komputer
Pesawat TV
Pesawat radio dan slide/film
strip
Proyektor Film
Proyektor Slide dan casette
recorder
Proyektor Filmstrip dan
casette recorder
Program Komputer
Program TV
Slide/film strip

Film
Slide dan casette

Film strip dan piringan
hitam

Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah bahwa apapun dasar klasifikasi yang dipakai jenis medianya adalah sama. Karena kepentingan dan tujuan yang berbeda, akan diperoleh klasifikasi yang berbeda pula. Yang jelas bahwa jenisjenis media tersebut memiliki karakteristik, kelebihan serta kekurangannya sendiri-sendiri. Itulah sebabnya maka perlu sekali adanya perencanaan yang sistematik untuk penggunaan media.



Minggu, 27 Mei 2012

Pertemuan 4


Jika kita tidak mampu menjadi pelita yang menerangi malam, maka jadilah
 kunang-kunang yang menghiasi malam
(  Renungan 2012 )

Pertemuan IV


Fungsi media pembelajaran
dalam konteks kegiatan pembelajaran.

Dewasa ini di dalam kegiatan pembelajaran masih banyak guru-guru yang enggan memanfaatkan media yang ada. Makin banyak kecenderungan bahwa para siswa dibiasakan untuk sekedar mendengar apa yang diajarkan oleh guru,kemudian mencatat dan dipaksa untuk menghafalkannya diluar kepala.

Kondisi semacam ini jelas akan menghasilkan sikap verbalisme, yang menyebabkan peserta didik menjadi pasif dan kegiatan pembelajaran menjadi
cepat menjemukan.

Untuk itu dalam rangka mengembangkan Cara Mengajar Guru Aktif (CMGA), serta mengembangkan keterampilan proses pada peserta didik, harus ada penekanan dalam penggunaan berbagai media (multimedia) pembelajaran yang sangat membantu dalam kegiatan pembelajaran.

Penggunaan media di dalam kegiatan pembelajaran pada mulanya hanya berfungsi sebagai alat visual (alat peraga) dalam kegiatan pembelajaran, yaitu berupa sarana yang dapat memberikan pengalaman visual kepada siswa, guna meningkatkan motivasi belajar, memperjelas serta mempermudah konsep yang abstrak, dan mempertinggi retensi (daya serap) siswa.

Pada kira-kira pertengahan abad ke-20, dengan masuknya pengaruh dari teknologi audio, lahirlah peraga audio visual yang menekankan penggunaan pengalaman yang konkret untuk menghindari verbalisme.

Pada akhir tahun 1950, teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu audio-visual, sehingga fungsi media sebagai alat peraga mulai tergeser menjadi penyalur pesan/informasi belajar. Tahun 1960, teori tingkah laku (behaviorism-theory) ajaran BF.Skinner, mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran.

Menurut teori ini mendidik adalah mengubah tingkah laku siswa. Karenanya orientasi tujuan pembelajaran (tujuan instruksional) haruslah mengarah kepada
perubahan tingkah laku siswa. Teori ini mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah laku siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran.
Media pembelajaran yang terkenal sebagai produk dari teori ini adalah teachingmachine dan programmed-instruction.

Sejak tahun 1965 dimana penggunaan pendekatan sistem (system approach) mulai memasuki khasanah pendidikan maupun kegiatan pembelajaran. Pendekatan sistem ini mendorong digunakannya media sebagai bagian integral dalam program pembelajaran. Bahkan JAMES W BROWN (1977), tokoh dalam bidang teknologi, media dan metode pembelajaran, memandang bahwa media itu sebagai central-elements, dengan mengatakan: “Media are regarded as central-elements in the approach to the systematic instruction”.

Program pembelajaran yang termasuk didalamnya (involve) media pembelajaran dilaksanakan secara sistematik berdasarkan kebutuhan dan karakteristik siswa serta diarahkan kepada perubahan tingkah laku siswa dengan tujuan yang akan dicapai.

Dalam usaha untuk memanfaatkan media sebagai alat bantu mengajar ini EDGAR DALE (1969) dalam bukunya “Audio visual methods in teaching” membuat klasifikasi pengalaman berlapis menurut jenjang/tingkat dari yang paling konkret ke yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian terkenal dengan nama Kerucut Pengalaman (the cone of experience) dari Edgar Dale, yang terdiri dari 11 jenjang, meliputi: pengalaman langung, observasi, partisipasi, demonstrasi, wisata, TV, film, radio, visual, simbol visual dan lambang verbal (kata-kata).


Dengan konsepsi yang semakin mantap, fungsi media dalam kegiatan pembelajaran tidak lagi sekedar peraga bagi guru melainkan pembawa informasi/pesan pembelajaran yang dibutuhkan siswa.

Dengan demikian pola interaksi edukatif akan lebih bervariasi hingga meliputi 5 pola berikut  :

1.   Sumber berupa orang saja (seperti yang kebanyakan terjadi di sekolah kita sekarang)
2.   Sumber berupa orang yang dibantu oleh/dengan sumber lain.
3.  Sumber berupa orang bersama dengan sumber lain berdasarkan suatu pembagian tanggung jawab.
4.   Sumber lain saja tanpa sumber berupa orang.
5.   Kombinasi dari keempat pola tersebut dalam bentuk suatu sistem.

Bila digambarkan pola tersebut menjadi sebagai berikut:

Secara praktis media pembelajaran memiliki beberapa fungsi penting, antara lain :

1
Mengkonkretkan konsep-konsep yang bersifat abstrak, sehingga dapat
mengurangi verbalisme. Misal dengan menggunakan gambar, skema, grafik,
model, dsb.


2
Membangkitkan motivasi, sehingga dapat memperbesar perhatian individual
siswa untuk seluruh anggota kelompok belajar sebab jalannya pelajaran tidak
membosankan dan tidak monoton.


3
Memfungsikan seluruh indera siswa, sehingga kelemahan dalam salah satu
indera (misal: mata atau telinga) dapat diimbangi dengan kekuatan indera
lainnya.

4
Mendekatkan dunia teori/konsep dengan realita yang sukar diperoleh dengan cara-cara lain selain menggunakan media pembelajaran. Misal untuk memberikan pengetahuan tentang pola bumi, anak tidak mungkin memperoleh pengalaman secara langsung. Maka dibuatlag globe ebagai model dari bola bumi. Demikian juga benda-benda lain yang terlalu besar atau terlalu kecil, gejala-gejala yang gerakannya terlalu cepat atau terlalu lambat, gejala-gejala/obyek yang berbahaya maupun sukar didapat, hal-hal yang terlalu kompleks dan sebagainya, semuanya dapat diperjelas menggunakan media pembelajaran.

5
Meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi langsung anatar siswa
dengan lingkungannya. Misalnya dengan menggunakan rekaman,
eksperimen, karyawisata, dsb.


6
Memberikan uniformitas atau keseragaman dlam pengamatan, sebab daya
tangkap setiap siswa akan berbeda-beda tergantung dari pengalaman serta
intelegensi masing-masing siswa. Misalnya persepsi tentang gajah, dapat
diperoleh uniformitas dalam pengamatan kalau binatang itu diamati langsung
atau tiruannya saja dibawa ke muka kelas.


7
Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun
disimpan menurut kebutuhan. Misalnya berupa rekaman, film, slide, gambar,
foto, modul, dsb.

Jumat, 18 Mei 2012

Pertemuan 3

A teacher who is attempting to teach without inspiring the pupil
with a desire to learn is hammering on cold iron.
( Horace Mann-Tries 2012 )


PERTEMUAN III

PENGERTIAN MEDIA

Untuk membahas pengertian media disini akan dibicarakan pengertian media secara umum dari segi teori komunikasi dan memberikan batasan secara khusus tentang media pembelajaran.
Kata “Media” berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari“medium”, secara harfiah berarti perantara atau pengantar.

Difinisi Media :
·         Association for Education and Communication Technology (AECT),
             Segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses informasi.

·         National Education Association (NEA)
Segala benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau           dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan untuk kegiatan.

·         HEINICH, dkk (1982)
The term refer to anything that carries information between a source and a receiver.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran adalah suatu proses komunikasi. Dengan kata lain, kegiatan belajar melalui media terjadi bila ada komunikasi antara penerima pesan (P) dengan sumber (S) lewat media (M) tersebut. Namun proses komunikasi itu sendiri baru terjadi setelah ada reaksi balik (feedback).
Berdasarkan uraian diatas maka secara singkat dapat dikemukakan bahwa media pembelajaran itu merupakan wahana penyalur pesan atau informasi belajar. Batasan tersebut terungkap antara lain dari pendapat-pendapat para ahli seperti Wilbur Schramm (1971), Gagne dan Briggs (1970).
Dari pendapat ketiga ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa setidak-tidaknya mereka sependapat bahwa:
Add caption
a.      Media merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut.
b.      Bahwa materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran, dan bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar.Yusufhadi Miarso (1985) dalam salah satu artikelnya memberikan batasan media pembelajaran tersebut sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. Batasan yang sederhana ini memiliki arti yang sangat luas dan mendalam, mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metoda yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran.
Dalam bahasan ini kita hanya akan membatasi pada media sebagai sarana atau wahana fisik untuk menyalurkan pesan untuk tujuan pembelajaran seperti program-program media OHP, film bingkai (slide), film, media audio, dsb.
Media pembelajaran yang dirancang secara baik dan kreatif dalam batas-batas tertentu akan dapat memperbesar kemungkinan siswa untuk belajar lebih banyak, mencamkan apa yang dipelajarinya lebih baik dan meningkatkan penampilan (performance) siswa dalam melakukan keterampilan-keterampilan tertentu sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Senin, 14 Mei 2012

Pertemuan 2

Guru yang cakap menghadapi siswa yang bodoh itu amanah,
Siswa yang cakap menghadapi guru yang bodoh itu musibah !
( Motivasi Diri, Tries 2012 )


PERTEMUAN II

KOMPETENSI DASAR TEKNOLOGI INFORMASI
DAN MEDIA PEMBELAJARAN


A.    Rasional
Sesuai dengan kemajuan di bidang Teknologi Informasi (Informational Technology), termasuk Teknologi Pembelajaran (Instructional Technology) menuntut digunakannya berbagai media pembelajaran (Instructional Media) serta peralatan-peralatan yang semakin canggih. Boleh dikatakan bahwa dunia pendidikan dewasa ini hidup dalam dunia media, di mana kegiatan pembelajaran telah bergerak menuju dikuranginya sistem penyampaian bahan pengajaran dengan metode ceramah dan diganti dengan digunakannya banyak media.
Lebih-lebih pada kegiatan pembelajaran yang menekankan pada keterampilan proses, maka peranan media pembelajaran (yang dalam uraian selanjutnya sering disebut media), menjadi semakin penting.
Ruang lingkup materi ini meliputi :
1.    Pengertian media
2.    Fungsi Media
3.    Klasifikasi jenis-jenis media.
4.    Perencanaan Sistematik Penggunaan media.
5.    Jenis-jenis Media yang dapat disiapkan atau      dapat dikembangkan
6.    Kebutuhan manusia akan teknologi informasi
7.    Kejahatan internet dan regulasinya
8.    Kebutuhan SDM TI di Indonesia
9.    Guru dan Teknologi Informasi
10. Panduan mengoperasikan internet
11. Mencari materi ajar melalui internet

       B.    Kompetensi
Secara umum      :    Kompetensi yang akan dicapai adalah  Mendesain dan menggunakan media pembelajaran yang dapat dipilih sebagai alat maupun sumber balajar.
Secara khusus      :    Dijabarkan dalam sejumlah Kompetensi Dasar yang akan dicapai sebagai berikut:
1.    Menjelaskan makna media pembelajaran
2.    Mengidentifikasi jenis-jenis media menurut penggolongan   tertentu
3.   Memilih media yang sesuai untuk pembelajaran mata           pelajaran 
4.    Menggunakan media secara baik di dalam pembelajaran 
5.    Mengembangkan media pembelajaran 
6.    Memahami kebutuhan manusia akan Teknologi Informasi
7.    Memahami kejahatan internet dan regulasinya
8.    Menyadari akan kebutuhan SDM yang paham teknologi   informasi
9.    Menyadari sebagai guru akan kebutuhan teknologi informasi
10.  Mengakses informasi melalui internet
11.  Memanfaatkan teknologi informasi sebagai media dan     sumber belajar

       C.    Prasyarat
Guru harus sudah mampu mengoperasikan komputer berbasis Windows Operating System

Senin, 07 Mei 2012

Pertemuan 1

Belajar tanpa berpikir tidak ada gunanya,
berpikir tanpa belajar sangat  berbahaya.
( RENUNGAN, Tries 2012 )

PERTEMUAN I


GURU DALAM PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI  DAN KOMUNIKASI


SEKAPUR SIRIH

             Kini teknnologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Walaupun pada umumnya berada pada tataran konsumen atau pemakai, namun keadaannya masih kalah jauh dari negara-negara tetangga, tetapi Indonesia tidak luput dari pengaruh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
            Beberapa jenjang sekolah, khususnya pada tingkat sekolah menengah atas (SLTA) dan sekolah menengah pertama (SLTP) dan sederajat, termasuk juga sebagian kecil sekolah dasar, kini para siswa telah diberi sebuah mata pelajaran yang berhubungan dengan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga diharapkan para siswa setidaknya sudah tidak asing dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, dan kalah pentingnya adalah guru dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran dan kegiatan lain.
Kini beberapa sekolah telah menerapkan pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, Internet dan lainnya) untuk menyampaikan isi materi yang diajarkan. Komputer, internet, satelit, tape/video, TV interaktif dan CD ROM adalah bagian media elektronik yang dimaksudkan dalam kategori ini. Komponen yang tak kalah penting dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran adalah para guru yang mengajar pada sekolah dalam berbagai jenjang.
Guru yang merupakan salah satu bagian terpenting dalam proses pembelajaran di sekolah sebenarnya memerlukan berbagai piranti dalam mengoptimalkan pemanfaatan TIK dan Komunikasi ini untuk mendukung kemampunnya yang diperlukan khususnya dalam operasional perangkat TIK tersebut. Berbagai hasil penelitian menunjukkan fakta bahwa kini masih banyak guru yang masih gagap dalam pemakaian komputer dalam mengakses informasi dan pemanfaatannya dalam proses pembelajaran.
Perkembangan TIK dewasa ini ibarat embun dipagi hari, seiring dalam tidur lelap kita tidak menyadari bahwa keesokan paginya telah ditemukan penemuan baru yang sangat penting bagi sejarah manusia. Lagi-lagi kita hanya mengiyakan penemuan itu tanpa harus berupaya menguasainya, lebih parah jika hanya cukup dengan keadaan yang ada tanpa adanya usaha apapun dalam merespon perkem-bangan ini. Keharusan guru dalam mendorong dan mendukung siswa kearah kreatif pemanfaatan TIK mutlak dilaksanakan. Untuk itu peranan guru sangat dibutuhkan demi keseimbangan penguasaan dan pengemasan informasi yang bakal dihadapkan dan disajikan kepada siswanya.
Karena ada kemungkinnan siswa telah memahami lebih jauh satu persoalan dari pada gurunya. Berangkat dari hal tersebut nampaknya kita harus ingat sebuah pesan Nabi Muhammad SAW ”Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan jamannya dan bukan jaman mu”.
Kondisi guru yang sebagian besar masih belum optimal, bahkan masih banyak yang belum dapat memanfaatkan kemajuan TIK atau dengan perkataan lain masih gagap, kondisi ini perlu dicari penyebabnya dan solusi yang terbaik, khususnya bagi para penentu kebijakan pendidikan.
Hasil analisa dalam mata ajar ini diharapkan dapat mendapat gambaran yang jelas sehingga diperoleh pemahaman yang benar mengenai kondisi guru kaitannya dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran dan juga dalam kegiatan lain yang meliputi:
(1)    Sarana-prasarana, fasilitas, dan perangkat;
(2)    Kebijakan pimpinan sekolah dan pimpinan lembaga terkait;
(3)    Kemampuan dan kecakapan dalam pemanfaatan TIK;
(4)    Pendidikan dan pelatihan, kursus yang telah dimiliki guru; dan
(5)    Berbagai kendala yang dialami para guru dalam pemanfaatan TIK.

Para penentu kebijakan pendidikan seharusnya sangat berkepentingan atas berbagai informasi tentang kondisi guru dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran dan kegiatan lain, mengingat otoritas yang dimiliknya dapat mengubah kondisi yang baik menjadi kondisi yang lebih baik. Sementara guru dengan informasi ini dapat menempatkan dan mengkondisikan dirinya sesegera mungkin untuk beradaptasi, paling tidak mengubah sikap dan perilaku untuk berkembang ke arah yang lebih baik.

Sumber :
Dr. H. MUKMINAN SALIMAN, M.Pd. Teknologi Informasi Dan Media Pembelajaran
Universitas Negeri Yogyakarta, 2008